Selasa, 13 September 2011

Sentra Kerajinan Cianjur

Bermula dari sebuah lahan tempat pengungsian. Berkembang menjadi salah satu sentra produksi beras lokal terbesar di Jawa Barat.
Makam tua itu membisu seribu basa dimakan zaman. Di atasnya, kumpulan batu kali sebesar kepala bayi itu tertumpuk rapi, membentuk ruas persegi panjang 1X1,5 meter persegi. Dari sela-sela bagian batu di bagian tengah, muncul sebatang pohon mawar merah berduri, seolah berfungsi sebagai penghias sekaligus pelindung makam tersebut dari sengatan terik matahari
“Ini makam Hajah Maing Khodijah, pendiri sekaligus pemimpin pertama desa kami,”ungkap Ahmad Nasai (60), salah satu sesepuh di Gasol. Itu sebuah nama desa yang terletak di kawasan kaki Gunung Gede dan masuk dalam wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Sejak zaman baheula, Gasol dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil beras lokal kualitas nomor 1 di Cianjur. Karena struktur, tekstur dan unsur hara tanahnya yang baik buat bercocok tanam, di desa yang terdiri dari 4 dusun itu, berbagai varietas padi lokal tumbuh subur. Mulai gebang omyok, hawara batu, peuteuy, pare menyan (beurem seungit), conggreng, ketan cikur, banggala, cingkrik, hawara jambu, rogol dan berbagai nama varietas padi yang bisa jadi anak-anak muda Gasol sekalipun saat ini tidak mengenalnya.

“Anak-anak muda Gasol sekarang mah lebih hapal nama-nama merk sepeda motor dibandingkan nama-nama jenis pare ageung,”ujar A.Buchori Muslim, Kepala Dusun II di Desa Gasol. Pare ageung merupakan sebutan para petani Cianjur untuk jenis padi lokal.

Gasol sendiri merupakan desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Cugenang. Luasnya sekitar 233.264 ha yang secara keseluruhan memiliki penduduk  berjumlah 6736 jiwa (2010). Hampir sebagian besar wilayah Gasol adalah lahan pertanian. Otomatis dengan situasi seperti itu, mata pencaharian penduduk Gasol mayoritas  adalah petani.

“Sebenarnya orang Gasol itu identik dengan petani. Sekarang saja jumlahnya mulai berkurang karena ada sebagian anak-anak kami yang lebih memilih menjadi kuli bangunan, buruh pabrik, tukang ojeg atau jadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Arab dan Malaysia,”ujar T.Syam Soeuri, salah satu aparat pemerintah di Desa Gasol.

Pernyataan Syam, diamini oleh Aki Elon (85). Menurut lelaki paling sepuh di Gasol itu, sebenarnya tak ada cerita orang Gasol itu menjadi pegawai pemerintah, pedagang apalagi sebagai buruh pabrik atau tukang ojeg. ”Kami adalah petani padi. Mengapa? Karena karuhun (nenek moyang) kami juga adalah petani,”kata lelaki tua yang terlihat masih bugar tersebut. Benarkah?
*

SUATU HARI DI TAHUN 1900-AN. Puluhan bendi yang sarat penumpang dan muatan bergerak dari arah Pameungpeuk, sebuah kampung di utara wilayah Cugenang. Guna menghindari jalan yang sempit dan curam, mereka terpaksa jalan dalam ritme yang pelan. “Bayangkan saja saat itu, jalan ageung yang melewati jalur Cugenang juga masih belum sebagus sekarang,”ujar Ahmad Nasai yang sehari-hari akrab dikenal warga Gasol dengan sebutan Apih Iyang itu.

Jalan ageung adalah sebutan orang Sunda untuk Jalan Raya Pos. Itu nama jalan utama di Jawa yang pembuatannya diilhami oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1809 dengan darah dan air mata orang-orang bumiputera.

Lantas siapa orang-orang yang ada dalam bendi dan pedati tersebut? Mereka tak lain adalah rombongan ‘pengungsi’ yang diperintahkan hijrah oleh Pemerintah Hindia Belanda ke selatan jalan raya pos Cugenang, tepat di timur kaki Gunung Gede. “Uniknya rombongan itu dipimpin oleh seorang perempuan tua bernama Hajah Maing Khodijah dan suaminya yang bernama Haji Tohir,”tutur Apih Iyang, yang mengaku slukiebagai turunan generasi ke-5 dari perempuan perkasa tersebut.

Tak ada keterangan yang detail soal musabab kepindahan rombongan yang terdiri dari 5 keluarga itu. Namun menurut Ahmad Memet Khumaedi (63), bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh ketidakstabilan tanah di wilayah Pameungpeuk kala itu. “Puncaknya terjadi ketika Gunung Rasamala (sebenarnya hanya sebuah bukit) yang menaungi Pameungpeuk, entah bagaimana tiba-tiba ‘terbelah’ menjadi dua bagian,”kata salah satu sesepuh yang juga masih keturunan Hajah Maing Khodijah itu.

Dan memang menurut Dr.Visser (1922) dalam On Land Earthquakes 1600-1921, Cianjur meruapakan bagian daerah yang pernah dilanda gempa yang sangat hebat pada 28 Maret 1879 dan 14 Januari 1900. Ketika menjenguk foto-foto lama di situs milik KITLV Belanda, saya menyaksikan betapa hebatnya akibat gempa tersebut hingga menyebabkan rumah-rumah penduduk rata menjadi tanah. Adakah ‘terbelahnya’ Gunung Rasamala disebabkan oleh gempa yang berdaya besar tersebut? Sepertinya para sejarawan harus bekerja keras mencari jawaban dari pertanyaan itu.

Singkat cerita, rombongan pengungsi tersebut sampai di lahan yang ditunjuk Pemerintah Hindia Belanda untuk tempat pemukiman baru mereka. Letaknya hanya sekitar 10 km dari Gunung Rasamala dan ada dalam wilayah  aliran Sungai Cianjur. Mereka lantas membuka lahan dengan menebangi berbagai jenis pohon buah-buahan seperti manggis, kupa, rambutan, menteng dan berbagai jenis pohon buah-buahan yang banyak tumbuh di sana.

Saat proses pembukaan lahan itulah, mereka menyaksikan betapa suburnya kawasan baru yang akan ditempati tersebut. Bukan saja tanahnya yang baik untuk bercocok tanam, namun juga airnya yang seolah tak ada habis-habisnya mengalir, cocok untuk menjadi tempat membersihkan diri.

Konon dari situasi tersebut, awal mulanya tercipta nama  “gasol”. “Gasol itu sesungguhnya berasal dari kata Arab: guslu  yang artinya bersih-bersih. Karena orang Sunda tidak terbiasa melafalkan kata itu, yang muncul kemudian kata “gasol”,”ungkap Ahmad Memet Khumaedi yang dikenal juga sebagai tokoh agama di Gasol.

Ikhwal “akrabnya” para pendiri Gasol itu dengan istilah-istilah Arab dan Islam, bisa ditelusuri dari silsilah 2 tokoh utama pendirinya: Hajah Maing Khodijah dan Haji Tohir. Menurut Apih Iyang, Hajah Maing Khodijah sendiri merupakan putera dari Raden Jagadireksa ( Pa Gede).

“Secara nasab, Raden Jagadireksa ini merupakan turunan Panjalu (sebuah kerajaan Sunda kuno yang ada di kawasan Ciamis) yang masuk Islam lalu menyingkir ke wilayah Pameungpeuk,”katanya. Bahkan kata pameungpeuk sendiri memiliki arti kata “persembunyian” atau “penyamaran”.

Nasab Haji Tohir malah lebih ‘kental’ lagi warna Islamnya. Ia merupakan cucu dari Dalem Sakeh, penyebar Islam di wilayah Citeureup, Bogor. Disebutkan juga Dalem Sakeh ini masih keturunan langsung dari Syeikh Maulana Hasanuddin, Sultan pertama Kerajaan Banten sekaligus penyebar agama Islam di tanah para jawara itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar